Mono vs Poly menjadi pertanyaan paling umum ketika pemilik rumah mulai mempertimbangkan pemasangan PLTS atap. Kedua jenis panel ini sama–sama mampu menghasilkan listrik dari energi matahari, tetapi performa, efisiensi, serta ketahanan jangka panjangnya berbeda cukup signifikan. Untuk Anda yang ingin memahami perbedaan mendasar sekaligus menentukan panel surya terbaik, artikel ini akan membahasnya secara detail—mulai dari struktur sel, performa di iklim tropis Indonesia, hingga teknologi terbaru seperti panel shingled ber-efisiensi tinggi. Untuk penjelasan dasar tentang cara kerja panel surya, Anda juga bisa membaca Panduan Lengkap Solar Panel untuk Pemula: Cara Kerja, Jenis, dan Cara Memilih yang Tepat
Apa Itu Solar Panel Mono vs Poly dan Mengapa Penting untuk Rumah?
Ketika merencanakan pemasangan PLTS atap, banyak orang hanya mempertimbangkan harga panel tanpa memahami jenisnya. Padahal, memilih jenis panel yang tepat sangat memengaruhi efisiensi sistem, kebutuhan area atap, hingga kecepatan balik modal (ROI). Di Indonesia—yang memiliki cuaca panas, lembap, dan intensitas matahari fluktuatif—pemilihan panel mono atau poly dapat memberikan hasil yang berbeda.
Apa perbedaan struktur sel pada mono vs poly?
Perbedaan jenis panel dimulai dari struktur sel yang digunakan:
-
Monocrystalline (Mono) dibuat dari satu kristal silikon utuh.
-
Efisiensi tinggi 20–22%.
-
Performa stabil di kondisi panas.
-
Tampilan hitam pekat, modern, dan estetik (full-black).
-
-
Polycrystalline (Poly) dibuat dari banyak kristal silikon.
-
Efisiensi lebih rendah, rata-rata 16–18%.
-
Harga lebih terjangkau.
-
Warna biru bercorak, kurang seragam secara visual.
-
Perbedaan tampilan ini juga menjadi pertimbangan banyak pemilik rumah yang menginginkan estetika atap tetap rapi dan premium.
Bagaimana pengaruh perbedaan ini terhadap performa di cuaca Indonesia?
Indonesia memiliki rata-rata suhu tinggi dan kelembapan ekstrem. Karena itu, performa panel sering dipengaruhi oleh:
-
Suhu tinggi: panel mono biasanya lebih stabil dan kehilangan daya lebih sedikit.
-
Lingkungan lembap: struktur silikon mono lebih tahan terhadap degradasi jangka panjang.
-
Cahaya rendah: panel mono lebih unggul pada kondisi mendung atau sore hari (low-light performance).
Panel poly cenderung mengalami drop efisiensi ketika terkena panas berlebih, sehingga output harian menjadi lebih rendah.
Masalah umum akibat salah memilih jenis panel
Banyak kasus instalasi PLTS atap mengalami performa yang tidak sesuai harapan karena salah memilih jenis panel. Masalah yang sering muncul meliputi:
-
Atap penuh tetapi output tidak optimal.
-
Kapasitas PLTS tidak mencapai target harian.
-
ROI jauh lebih lambat dari perhitungan awal.
Karena itu, pemahaman tentang mono vs poly sangat penting sebelum membeli.
Mana yang Lebih Efisien: Mono atau Poly? (Analisis Performa 2025)
Pada tahun 2025, tren industri solar panel semakin berpihak pada panel monocrystalline, terutama karena efisiensi dan teknologinya terus berkembang. Lembaga riset seperti NREL (National Renewable Energy Laboratory) juga mencatat peningkatan signifikan pada panel mono modern.
Berapa efisiensi panel mono vs poly?
-
Panel Mono: umumnya berada pada efisiensi 20–22%.
-
Panel Poly: berada pada kisaran 16–18%.
Studi NREL menunjukkan bahwa panel monocrystalline memiliki energy yield lebih tinggi hingga 18–25% pada penggunaan jangka panjang, terutama untuk wilayah bersuhu tinggi.
Poin penting:
-
Mono menghasilkan lebih banyak energi dari area atap yang sama.
-
Poly memerlukan area lebih besar untuk output yang setara.
Bagaimana teknologi baru seperti shingled meningkatkan efisiensi?
Salah satu teknologi yang semakin populer adalah shingled solar panel, seperti AROS TECH MS MONO 380 Wp yang memiliki efisiensi hingga 21.4%. Teknologi ini menyambungkan sel-sel panel secara tumpang tindih sehingga:
-
Mengurangi area tidak aktif (lebih banyak sel aktif).
-
Menghilangkan celah antar sel sehingga tampilan lebih rapi.
-
Mengurangi risiko micro-crack, meningkatkan umur pakai.
-
Meningkatkan performa low-light, cocok untuk cuaca tropis yang sering mendung di sore hari.
Bagi pemilik rumah yang menginginkan panel estetik, awet, dan berkinerja tinggi, panel shingled full black menjadi pilihan ideal.
Bagaimana pengaruh suhu & bayangan terhadap efisiensi?
Faktor lain yang membedakan mono dan poly adalah respons terhadap suhu dan bayangan:
-
Temperature coefficient: panel mono kehilangan daya lebih sedikit saat panas tinggi.
-
Bayangan parsial: panel mono shingled memiliki distribusi arus yang lebih stabil.
-
Manajemen panas: panel full black berkualitas tinggi menggunakan material yang membantu pelepasan panas lebih cepat.
Menurut Dr. M. Alvarez – Senior PV Researcher, NREL,
“Panel monocrystalline modern dirancang dengan struktur silikon yang lebih seragam sehingga mampu mempertahankan performa lebih stabil pada cuaca panas lembap seperti Asia Tenggara. Teknologi baru seperti shingled sel juga menurunkan potensi kerusakan mikro dan meningkatkan efisiensi harian bahkan pada kondisi cahaya rendah.”
Jika Anda ingin melihat performa aktual dan membandingkan efisiensinya, Anda bisa memilih panel seperti AROS TECH yang sudah menggunakan desain shingled dan toleransi daya 0 hingga +5 watt.
? CTA: Ingin cek efisiensi panel AROS TECH? Hubungi tim teknis kami.
Dengan memahami perbedaan antara mono vs poly, Anda bisa menentukan panel surya yang paling sesuai untuk rumah, kebutuhan energi, dan kondisi atap Anda. Artikel ini diakhiri dengan keyword utama untuk membantu penguatan SEO: mono vs poly.
Mono vs Poly kembali menjadi fokus ketika kita berbicara tentang keawetan panel surya dan kecocokannya untuk cuaca tropis Indonesia. Banyak pengguna merasa bahwa yang terpenting hanya efisiensi, padahal durabilitas, garansi panjang, dan kemampuan bertahan di panas lembap sama pentingnya untuk menghasilkan energi stabil selama puluhan tahun. Di bagian lanjutan ini, kita membahas sisi ketahanan, ekonomi, hingga bagaimana mono dan poly bekerja dalam jangka panjang. Untuk Anda yang ingin melihat perbandingan produk lebih detail, silakan baca juga artikel Solar Panel 380Wp: Spesifikasi, Harga, dan Kelebihannya
Mono vs Poly: Mana yang Lebih Awet dan Cocok untuk Iklim Tropis?
Indonesia memiliki karakter cuaca yang cukup ekstrem bagi panel surya: panas tinggi di siang hari, lembap hampir sepanjang tahun, dan hujan angin yang memengaruhi struktur atap. Perbedaan material dan teknik produksi antara mono dan poly akan terlihat jelas pada ketahanan jangka panjang.
Bagaimana daya tahan panel mono vs poly?
Ketahanan panel sangat dipengaruhi oleh kualitas silikon, rancang bangun modul, dan teknologi sel. Panel monocrystalline cenderung lebih unggul dalam hal durabilitas, terutama di iklim tropis.
Perbandingan ketahanan mono vs poly:
-
Ketahanan panas-lembap: panel mono lebih stabil dalam suhu tinggi, sedangkan poly cenderung mengalami penurunan performa lebih cepat.
-
PID resistance: banyak panel mono generasi baru (seperti tipe shingled full-black) sudah memiliki kontrol PID lebih baik, mengurangi risiko degradasi dini.
-
Beban mekanik (wind load dan snow load): mono biasanya memiliki frame dan struktur lebih padat, sehingga lebih tahan pada tekanan angin kuat yang umum di daerah pesisir Indonesia.
Dalam beberapa instalasi yang saya tangani, panel mono menunjukkan penurunan performa yang jauh lebih kecil dibanding poly, terutama pada rumah yang terpapar matahari langsung sepanjang hari. Perbedaan ini baru terasa setelah penggunaan 2–3 tahun.
Bagaimana garansi 15 tahun / 25 tahun memengaruhi ROI?
Garansi bukan sekadar angka; ia mencerminkan ketahanan teknologi yang dipakai. Panel mono full-black 380 Wp umumnya hadir dengan:
-
15 tahun workmanship warranty
-
25 tahun performance warranty
-
0.5% annual degradation
Sebaliknya, panel poly memiliki angka degradasi yang lebih tinggi. Pada beberapa pabrikan, penurunan daya bisa mencapai 0.7–0.8% per tahun.
Dampaknya terhadap ROI:
-
Semakin rendah degradasi, semakin stabil output tahunan.
-
PLTS atap rumah bisa mempertahankan produksi energi lebih lama.
-
Lifetime energy yield mono jauh lebih besar dibanding poly pada kapasitas sama.
Saya pernah menghitung perbandingan untuk dua pelanggan rumah tinggal di Surabaya. Meskipun harga awal panel mono lebih tinggi, produksi energinya tetap konsisten bahkan di tahun ke-7, sementara poly menunjukkan penurunan yang cukup signifikan. Hasil akhirnya: mono memberikan balik modal lebih cepat sekitar 1–1,5 tahun.
Mana yang lebih cocok untuk atap rumah modern?
Pemilik rumah modern tidak hanya mencari panel yang kuat, tetapi juga yang memadukan fungsi dan estetika.
-
Mono full black:
-
Tampilan hitam pekat lebih seragam.
-
Menyatu dengan atap minimalis.
-
Cocok untuk bangunan premium, cluster modern, hingga villa.
-
-
Poly biru bercorak granular:
-
Lebih murah tapi kurang estetik.
-
Tampilan bercorak tidak cocok untuk desain minimalis.
-
Dengan tren perumahan modern yang mengutamakan tampilan rapi, panel mono menjadi pilihan dominan untuk area residensial.
Mana yang Lebih Menguntungkan Secara Ekonomi? (Biaya vs Output vs ROI)
Saat berbicara soal panel surya, banyak orang terpaku pada harga panel per watt. Padahal, yang lebih penting adalah biaya per kWh yang dihasilkan selama 25 tahun. Inilah alasan mengapa efisiensi dan stabilitas output menjadi faktor ekonomi utama.
Berapa rata-rata harga panel mono vs poly 2025?
Harga dapat berbeda tergantung merek dan teknologi, tetapi gambaran umumnya sebagai berikut:
-
Mono (premium): Rp X – Y/Wp
-
Poly: lebih rendah beberapa persen
Meski mono lebih mahal, teknologi seperti shingled, half-cut, dan full-black membuat output dan umur pakainya jauh lebih panjang.
Mengapa panel mono sering punya ROI lebih cepat?
Beberapa alasan mengapa mono lebih menguntungkan secara jangka panjang:
-
Output lebih besar ? tagihan PLN turun lebih cepat.
-
Efisiensi lebih tinggi ? kebutuhan atap lebih sedikit.
-
Degradasi lebih kecil ? produksi tetap stabil hingga puluhan tahun.
-
Lifetime energy yield mono bisa melampaui poly hingga 20–30%.
Dengan kata lain, meski harga awal mono lebih tinggi, energi total yang dihasilkan selama masa pakai jauh lebih besar.
Contoh simulasi PLTS atap rumah 5 kWp (mono vs poly)
Perbandingan berikut menggunakan asumsi standar radiasi matahari Indonesia.
Mono 5 kWp:
-
Membutuhkan area lebih kecil (sekitar 18–22 m²).
-
Produksi tahunan lebih tinggi.
-
Degradasi rendah ? stabil hingga tahun ke-25.
Poly 5 kWp:
-
Membutuhkan area lebih besar.
-
Produksi tahunan lebih rendah.
-
Degradasi lebih cepat ? energi seumur hidup lebih sedikit.
Ringkasannya:
-
Mono = energi lebih besar, atap lebih efisien, ROI lebih cepat.
-
Poly = harga awal murah, tetapi energi total lebih sedikit.
? CTA: “Mau dapat simulasi gratis PLTS atap 5 kWp? Klik untuk konsultasi.”
Dengan mempertimbangkan semua aspek di atas, mulai dari durabilitas, suhu tropis, garansi, hingga simulasi ekonomi, perbandingan mono vs poly menjadi semakin jelas untuk pengguna rumah maupun bisnis.
Mono vs Poly kembali menjadi topik utama ketika seseorang ingin menentukan jenis panel surya paling efektif untuk rumah, bisnis, maupun industri. Perbedaan kebutuhan, ukuran atap, serta beban pemakaian listrik membuat setiap segmen memerlukan pendekatan berbeda. Di bagian lanjutan ini, kita masuk lebih dalam pada segmentasi penggunaan, rekomendasi produk, dan panduan memilih panel terbaik 2025. Jika Anda ingin memahami detail biaya pemasangan PLTS atap, Anda bisa membaca artikel Berapa Biaya Pasang PLTS Atap? Simulasi Lengkap
Mono vs Poly untuk Rumah, Bisnis, dan Industri — Mana yang Paling Efektif?
Pemilihan jenis panel surya tidak selalu sama untuk setiap kebutuhan. Rumah tinggal, UMKM, dan pabrik memiliki prioritas yang berbeda, mulai dari efisiensi, luas atap, umur pakai, hingga stabilitas produksi. Karena itu, penting memahami karakter masing-masing untuk menentukan pilihan terbaik.
Rumah Kecil & Cluster
Pada rumah kecil atau cluster modern, area atap biasanya terbatas. Kondisi ini membuat panel monocrystalline menjadi pilihan yang lebih ideal. Selain lebih efisien, panel mono full-black juga memberikan tampilan yang seragam dan elegan sehingga cocok untuk hunian minimalis.
Beberapa alasan mengapa panel mono lebih tepat untuk rumah kecil antara lain:
-
Efisiensinya lebih tinggi, sehingga mampu menghasilkan listrik maksimal meski dari atap yang sempit.
-
Estetikanya lebih rapi, cocok untuk desain modern yang kini banyak digunakan pada perumahan baru.
-
Performa teknologi mono cenderung lebih stabil di cuaca panas dan lembap khas Indonesia.
Selain alasan di atas, panel mono juga memiliki tolerance daya positif, sehingga hasil produksinya lebih konsisten dan optimal setiap hari. Sebaliknya, polycrystalline umumnya membutuhkan area atap yang lebih besar untuk menghasilkan kapasitas yang sama.
Lebih lanjut, untuk area cluster yang menerapkan aturan estetika atap, panel mono full-black hampir selalu menjadi pilihan favorit karena tampilannya lebih menyatu dengan desain bangunan.
Bisnis & UMKM
UMKM dan bisnis akan sangat terbantu dengan stabilitas produksi energi. Pada jenis penggunaan ini, panel bukan hanya dilihat dari efisiensi, tetapi juga dari garansi jangka panjang dan keandalan sistem.
Mengapa mono lebih unggul bagi bisnis:
-
Performa lebih konsisten sepanjang tahun.
-
Degradasi lebih rendah ? output tidak cepat menurun.
-
ROI lebih pasti karena produksi harian lebih stabil.
Panel poly memang menawarkan harga awal lebih murah, namun bagi UMKM—yang ingin mengurangi tagihan listrik secara signifikan—panel mono memberikan nilai lebih besar pada jangka panjang.
Industri besar & pabrik
Pada industri besar, kapasitas energi harian jauh lebih besar sehingga efisiensi per meter persegi menjadi faktor strategis. Karena itulah panel monocrystalline menjadi pilihan utama.
Keunggulan mono untuk industri:
-
Potensi kapasitas lebih tinggi per meter ? cocok untuk pabrik dengan atap terbatas atau bentuk tidak beraturan.
-
Selain efisiensi, mono pada umumnya memiliki struktur yang lebih kokoh, cocok menghadapi kondisi angin, debu industri, dan paparan panas lebih intens.
Menurut Dr. K. Roberts, PV Structural Analyst,
“Industri berskala besar biasanya membutuhkan produksi energi stabil sepanjang tahun. Dengan efisiensi tinggi dan tingkat degradasi yang rendah, panel monocrystalline memberi keuntungan jangka panjang, terutama pada wilayah beriklim tropis seperti Asia Tenggara.”
Dengan kata lain, mono memberikan output maksimal sekaligus meminimalkan biaya per kWh dalam jangka panjang.
Rekomendasi Produk: Panel Mono Full Black 380Wp Shingled
Beberapa data dari dokumen bisnis yang tersedia menunjukkan bahwa panel AROS TECH MS MONO 380Wp Shingled Full Black merupakan salah satu panel premium yang cocok untuk penggunaan residensial maupun industrial. Teknologi shingled membawa peningkatan signifikan pada performa dan keindahan estetika.
Kenapa panel shingled 232 sel lebih unggul?
Shingled cell technology menyambungkan sel-sel panel menjadi lapisan tumpang tindih tanpa celah besar, sehingga:
-
Mengurangi risiko micro-crack yang umum terjadi pada panel konvensional.
-
Efisiensi meningkat hingga 21.4% karena area aktif sel lebih besar.
-
Lebih responsif dalam kondisi low-light, seperti pagi hari, sore hari, atau cuaca mendung.
-
Struktur lebih rigid ? cocok untuk iklim panas dan lembap Indonesia.
Teknologi ini memberi output lebih stabil dibanding panel konvensional dengan celah antarsel yang lebih besar.
Spesifikasi AROS TECH MS MONO 380 Wp
Mengacu pada data yang tercantum, panel ini membawa berbagai keunggulan teknis:
-
Daya 380Wp Full Black yang sangat estetik untuk rumah modern.
-
Toleransi daya +5W, artinya Anda bisa mendapatkan output lebih besar dari kapasitas tertera.
-
J-Box IP68, perlindungan tinggi terhadap air, debu, dan kelembapan.
-
232 sel shingled, meningkatkan kepadatan sel dan efisiensi energi.
-
Desain hitam pekat yang menyatu dengan berbagai jenis atap.
Panel ini juga menggunakan material EVA/POE yang lebih tahan terhadap panas dan kelembapan, sesuai kondisi tropis.
Keunggulan dibanding kompetitor
Panel ini unggul dalam segmen residensial dan industrial karena:
-
Efisiensi tinggi ? produksi lebih maksimal per meter.
-
Garansi 25 tahun untuk performa, memberikan kepastian jangka panjang.
-
Tahan terhadap korosi, panas, debu, amonia, dan kondisi lingkungan ekstrem.
-
Lebih estetik dibanding panel biru bercorak yang umum pada panel poly.
Keunggulan-keunggulan ini membuat panel full-black shingled lebih dipilih dalam proyek perumahan modern, komersial, hingga industri.
Jadi, Mana Solar Panel Terbaik untuk Rumah Anda? (Rekomendasi Akhir)
Pemilihan panel akhirnya bergantung pada kebutuhan, kondisi atap, dan prioritas anggaran. Namun, karakteristik mono dan poly memberikan gambaran yang cukup jelas.
Mono untuk siapa?
-
Pemilik rumah dengan atap terbatas.
-
Pengguna yang ingin performansi maksimal.
-
Rumah minimalis atau bangunan modern yang membutuhkan tampilan rapi.
-
Bisnis dan industri yang menginginkan stabilitas jangka panjang.
Mono sangat ideal bagi pengguna yang ingin memaksimalkan setiap meter persegi atap dan mendapatkan ROI lebih cepat.
poly sendiri untuk siapa?
Poly tetap relevan bagi pengguna yang:
-
Memiliki budget sangat terbatas.
-
Tidak keberatan dengan efisiensi lebih rendah.
-
Memiliki atap luas sehingga output bisa dikejar dari jumlah panel.
ini lebih cocok untuk pengguna dengan prioritas biaya awal paling rendah.
Checklist memilih panel terbaik 2025
Agar tidak salah pilih panel, berikut poin penting yang wajib diperhatikan:
-
Efisiensi: pilih panel yang memaksimalkan output dari area atap Anda.
-
Degradasi: semakin kecil degradasi tahunan, semakin baik.
-
Garansi: minimal 25 tahun untuk performance warranty.
-
Estetika: panel full black memberi nilai visual lebih tinggi.
-
Teknologi: shingled atau half-cut masih menjadi standar premium 2025.
Jika Anda ingin mengetahui ukuran atap, estimasi biaya, dan kapasitas energi harian, layanan konsultasi sangat membantu.
? CTA: “Diskusikan kebutuhan atap Anda dengan ahli PLTS kami — konsultasi gratis.”
Dengan memahami karakteristik dan segmentasi penggunaan, Anda bisa menentukan pilihan yang paling tepat antara mono vs poly.
FAQ – Mono vs Poly
Apa perbedaan utama antara mono vs poly pada panel surya?
Panel mono dibuat dari satu kristal silikon. Karena itu, efisiensinya lebih tinggi. Selain itu, tampilannya hitam pekat dan lebih estetik.
Panel poly dibuat dari beberapa kristal silikon. Akibatnya, efisiensinya lebih rendah dan warnanya biru bercorak.
Perbedaan ini memengaruhi output harian, kebutuhan atap, dan kecepatan ROI. Karena itu, mono sering dipilih untuk rumah modern.
Mana yang lebih cocok untuk cuaca panas Indonesia, mono atau poly?
Panel mono lebih stabil di suhu tinggi. Selain itu, mono memiliki temperature coefficient lebih baik.
Poly cenderung turun performanya ketika panas ekstrem. Oleh karena itu, mono lebih cocok untuk iklim tropis Indonesia.
Mono juga bekerja lebih baik saat cahaya rendah. Misalnya pada pagi hari, sore hari, atau cuaca mendung.
Dengan performa lebih konsisten, mono memberi total energi lebih besar sepanjang tahun.
Apakah panel mono lebih awet dibanding panel poly?
Ya. Panel mono memiliki tingkat degradasi lebih rendah. Karena itu, umur pakainya lebih panjang.
Selain itu, teknologi mono modern menggunakan struktur sel lebih rapat dan tahan micro-crack.
Poly biasanya mengalami penurunan performa lebih cepat. Karena itu, biaya sepanjang umur sistem menjadi lebih tinggi.
Jika Anda ingin jaminan jangka panjang, mono jauh lebih aman.
Mengapa panel mono lebih mahal dibanding panel poly?
Mono lebih mahal karena proses produksinya lebih rumit. Selain itu, efisiensinya lebih tinggi.
Panel mono juga memakai silikon kualitas premium. Oleh karena itu, performanya lebih stabil.
Walaupun harga awal lebih tinggi, biaya seumur hidupnya justru lebih rendah.
Mono menghasilkan energi lebih besar sehingga ROI lebih cepat.
Apakah panel poly masih layak digunakan?
Poly masih layak untuk pengguna dengan anggaran sangat terbatas. Selain itu, poly cocok untuk atap luas.
Jika Anda memiliki area besar, poly bisa memenuhi kapasitas dengan biaya awal lebih rendah.
Namun, output poly lebih kecil dan degradasinya lebih cepat. Karena itu, total energi seumur hidupnya lebih sedikit.
Apa kelebihan mono full-black untuk rumah modern?
Mono full-black tampil lebih rapi dan seragam. Selain itu, warnanya cocok untuk atap minimalis.
Panel ini menghasilkan energi lebih besar per meter. Karena itu, ideal untuk atap kecil.
Selain itu, mono full-black sering memiliki toleransi daya positif. Misalnya +3W hingga +5W.
Jika Anda mengutamakan estetika dan performa, mono full-black adalah pilihan terbaik.
Bagaimana cara memilih panel terbaik antara mono vs poly?
Gunakan checklist berikut:
-
Efisiensi panel
-
Tingkat degradasi tahunan
-
Garansi produk dan performa
-
Kualitas frame dan J-Box
-
Toleransi daya positif
-
Teknologi sel seperti shingled atau half-cut
-
Estetika panel untuk rumah modern
Selain itu, sesuaikan dengan luas atap dan tujuan penggunaan. Oleh karena itu, konsultasi sangat disarankan.
Mana yang lebih cepat balik modal, mono atau poly?
Mono biasanya memiliki ROI lebih cepat. Selain itu, mono menghasilkan total energi lebih besar.
Poly membutuhkan atap lebih luas dengan produksi lebih kecil. Karena itu, ROI poly lebih lama.
Pada cuaca panas lembap Indonesia, mono tetap lebih stabil. Oleh karena itu, efisiensi mono memberi keuntungan jangka panjang.
Berapa kapasitas ideal panel mono untuk rumah tangga?
Kapasitas bergantung pada konsumsi listrik harian. Selain itu, luas atap juga berpengaruh.
Rumah menengah biasanya memakai 3–5 kWp. Rumah besar bisa mencapai 10 kWp.
Mono memungkinkan kapasitas lebih besar di area kecil. Oleh karena itu, mono populer untuk perumahan modern.
Apakah mono vs poly memengaruhi biaya pemasangan PLTS?
Ya. Harga panel memengaruhi total biaya. Selain itu, jumlah panel juga menentukan biaya rangka dan kabel.
Mono butuh lebih sedikit panel untuk daya sama. Oleh karena itu, biaya mounting bisa lebih rendah.
Jika Anda ingin membaca perhitungan lengkap, lihat artikel Berapa Biaya Pasang PLTS Atap? Simulasi Lengkap.
CTA
Ingin tahu panel mana yang paling cocok untuk atap Anda? Konsultasikan kebutuhan Anda sekarang—gratis!